Mengapa mereka mudah menerima? Padahal mereka tidak tau isi dari tulisan yang aku sisipkan melalui bait dalam kata yang banyak warna. Mereka hanya mengatakan ",,iya,," pada sebuah obrolan, dan mereka hanya melihat tanpa memahami. Sungguh sedih melihat dunia yang tidak sefrekuensi harus dipaksakan memahami sebuah isi dari makna yang tak pasti.
Aku rindu dengan dirimu yang mengerti isi meskipun tidak jeli tetapi sejauh pencapaian yang terlampaui hanyalah dirimu yang mengerti. Aku pernah menuliskan bahwa frekuensi kerap kali berkomunikasi tetapi mengapa interaksi tidak mencari..? Apakah masaku telah berakhir meskipun belum terpenuhi semua janji atau pilihan kedewasaan menyebabkan tembok raksasa Cina hanya secuil bagi kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar