Ratusan hari kulewati tanpa harus permisi
Mentari melambaikan sepi pada pelangi yang kerap kali menangisi pergi
Pergi hilang tak berarti
Frekuensi tak lebih distraksi tanpa membersamai
Menjuntai tinggi membawa janji yang menguap tak berarti,
Begitukah mimpi yang kita jalani?
Harapan akan terus berpelukan, menyerukan kedamaian dan kemajuan,
Lintang hanyalah halangan yang diterbangkan, tanpa kesah atau usaha basah tapi rasa ini apa akan abadi. Seabadi cinta ini
Segalanya telah kuberikan, tetapi mengapa caraku untuk bangkit harus kau rampas jua? tidak cukupkah raga yang berlaga?
Kurangkah kebahagiaan yang kuberikan?
Tidak puaskah perlakuan akan ketulusan?
Sungguh berat memang memberikan segalanya kepada orang yang dicintainya, diriku memang berpendidikan tetapi cinta yang over membuat tahta sekalipun tidak ada gunanya🥀
Setidaknya diriku pernah membuatnya terhibur sebelum akhirnya aku yang hancur 🥀
Konon katanya hubungan yang dewasa adalah di kala semuanya harus diperbaiki bukan diakhiri, tetapi bagaimana kalau hanya diriku yang ingin memperbaikinya dan dirimu sibuk dengan orang baru? Terima kasih akan menjadi saksi bahwa mulai detik itu diriku tak akan mengharapkan dirimu kembali, kalaupun dirimu butuh datangi aku, bila dirimu rindu cari aku, dan jika dirimu baik-baik saja tanpa aku maka diriku akan pergi seperti halnya dirimu tidak membutuhkanku.
Meskipun begitu, aku akan tetap menunggu di muara hati terdalam karena di sanalah tempatmu tinggal. Bayangkan akan kesedihanmu terus membayangi diriku, entah ingin kembali ataupun menyesali yang jelas diriku masih belum bisa menerima bila pilihan yang kau sematkan bukanlah diriku🥀
Nyatanya, menerima keadaan tidaklah mudah apalagi harus berdamai dengan keadaan. Tanpa kebencian, cacian, penyesalan, kesakitan, kepedihan, harapan, kepedulian, dan perhatian. Diriku tidak setegar seperti imajinasimu, diriku tidak sekuat tekadmu, diriku juga tidak semanis mimpimu, dan sayangnya diriku setulus hatimu 🥀
Melepasmu adalah kedustaan yang kuperbuat seperti janji kala itu, diriku terlalu jauh bersamamu hingga aku pun tidak mengenal siapa dan faktanya, aku benci takdirku sendiri. Ikhlas hanya lah kata yang tak sempat diucapkan hati karena gelap, melepaskanmu tidak lebih sekedar membuka pintu kebahagiaan agar dirimu tidak terkekang oleh keterpurukan. Namun konyolnya, diriku melupakan siapa yang berhak bahkan layak untuk diperhatikan dan dicintai 🥀
Cuek adalah teman dikala dirimu hadir dalam genggaman mata, dingin tidak lebih sekedar caraku mencintaimu, buta adalah karakter yang kau bentuk. Semua karena dirimu, tetapi mengapa dirimu menyiksaku dengan memanipulasi dunia bahwa kita tidak terluka? Aku kerap kali bertanya, apakah dirimu sengaja atau level kita memang berbeda? Yang jelas, kebersamaan kita tidak akan pernah kau abadikan dalam duniamu yang luas itu🥀
Terkadang pikiran akan keinginan hilang ingatan adalah jalan, tetapi menghilang terlanjur meyakinkan meskipun kematian telah dijanjikan 🥀
Kuharap dirimu tidak akan pernah datang pada momen kebahagiaan yang dulu pernah kita janjikan bersama, cukup siksa aku dengan kepergianmu tetapi jangan pernah kembali setelah beribu upaya yang kulakukan untuk mengobati luka kala itu. Aku sendirian, kesepian, bahkan tidak mengenal siapa, di mana, kenapa, kapan, ataupun bagaimana diriku tak sanggup. Satu kalimat yang kuucapkan di kala melepaskanmu, tersenyumlah dan semoga bahagia.
Aku muak dengan sikapmu yang begitu menyakitiku perlahan-lahan bagaikan psikopat yang haus akan penderitaan, pergi saja!!! Aku tak perlu dirimu lagi.
Sakitku biarlah menjadi urusanku tetapi bahagiamu biarkanku membantumu melalui waktu. Berat sekalipun tidak akan kupedulikan karena dirimu tetapi itu dulu, lebih baik kita asing dan fokus pada proses masing-masing tanpa saling menyakiti, berbagi, maupun memberi. Cukup kemarin kedekatan kita, sekarang biarkan kita tidak saling kenal karena dengan begitu kita tidak akan saling terluka maupun menyakiti 🥀