Kamis, 28 September 2023

Tegarkan Ikhlaskan Kepergianmu

Malam sunyi setia mendampingiku

Udara dingin tak henti menusuk tulang sumsumku

Hati ini pedih baik disayat sembilu

Api dan lara setia menjajahku tanpa ragu 

Malam tak akan ada batasnya

Mampukah kubersandingmu

Apalah dayaku hanya seorang manusia biasa

Denganmu merasa bahagia

Fajar pun kemudian hadir gantikan malam

Alunan rindu tegar terlantun dalam sanubari

Ujarkan harap ingin bertemu denganmu walau tak mungkin

Zat-zat romansa terbiar menumpuk dalam dada

Ikhlaskan engkau menjauh dariku

Hadirmu merasakan sesuatu yang berbeda

Apakah diriku sedang jatuh cinta

Mampukah aku bersanding denganmu

Mungkin saja tak pantas mendampingimu

Ada naluri kamu lebih bahagia bersama sosok yang dicintai

Dendam tak akan tercipta dalam sukma

Fantasi tentang sosoknya terbiar terpatri di benak

Awan mendung jualah yang menjadi saksi keikhlasanku padamu


Rasul Cahaya Hidup Manusia

Rabiul' Awwal kala itu

Cahaya suci turun ke bumi

Muhammad dilahirkan

12 Rabiul 'Awwal hari Senin


Beliau cahaya hidup umat manusia.

Harumnya mewangi melebihi kasturi.

Bapaknya bernama Abdullah

Ibunya bernama Siti Aminah


Beliau hadir terangi dunia

Hilangkan gundah sesat gulita

Yang menerangi seluruh dunia serta isinya laksana purnama

Memberi arti setiap jiwa


Umur 40 tahun beliau menjadi Rasul

Seketika menyerukan tauhid

Berdoalah supaya mendapat syafaat

Jangan lupa pula membaca sholawat


Perbanyak menyebut nama Allah dan Rasul

Agar diakui beliau sebagai umat yang dilindungi

Ketika kita menghadap Ilahi kelak

Maka amal perbuatan kita dihisab


Syafaatnya adalah hal terindah

Yang memayungi setiap kafilah dan umat Islam yang selalu bersalawat

Tanpa beliau umat akan sekarat

Dengan beliau umat akan terikat


Nabi Muhammad sungguh utusan Allah

Memiliki kasih yang tak terukur

Sungguh sosok insan teragung

Tiada makhluk yang tak henti menyanjung.




Minggu, 24 September 2023

Tanpa Judul 4

Ratusan hari kulewati tanpa harus permisi

Mentari melambaikan sepi pada pelangi yang kerap kali menangisi pergi

Pergi hilang tak berarti

Frekuensi tak lebih distraksi tanpa membersamai

Menjuntai tinggi membawa janji yang menguap tak berarti,

Begitukah mimpi yang kita jalani?


Harapan akan terus berpelukan, menyerukan kedamaian dan kemajuan,

Lintang hanyalah halangan yang diterbangkan, tanpa kesah atau usaha basah tapi rasa ini apa akan abadi. Seabadi cinta ini

Segalanya telah kuberikan, tetapi mengapa caraku untuk bangkit harus kau rampas jua? tidak cukupkah raga yang berlaga? 

Kurangkah kebahagiaan yang kuberikan? 

Tidak puaskah perlakuan akan ketulusan?

Sungguh berat memang memberikan segalanya kepada orang yang dicintainya, diriku memang berpendidikan tetapi cinta yang over membuat tahta sekalipun tidak ada gunanya🥀


Setidaknya diriku pernah membuatnya terhibur sebelum akhirnya aku yang hancur 🥀


Konon katanya hubungan yang dewasa adalah di kala semuanya harus diperbaiki bukan diakhiri, tetapi bagaimana kalau hanya diriku yang ingin memperbaikinya dan dirimu sibuk dengan orang baru? Terima kasih akan menjadi saksi bahwa mulai detik itu diriku tak akan mengharapkan dirimu kembali, kalaupun dirimu butuh datangi aku, bila dirimu rindu cari aku, dan jika dirimu baik-baik saja tanpa aku maka diriku akan pergi seperti halnya dirimu tidak membutuhkanku.

Meskipun begitu, aku akan tetap menunggu di muara hati terdalam karena di sanalah tempatmu tinggal. Bayangkan akan kesedihanmu terus membayangi diriku, entah ingin kembali ataupun menyesali yang jelas diriku masih belum bisa menerima bila pilihan yang kau sematkan bukanlah diriku🥀

Nyatanya, menerima keadaan tidaklah mudah apalagi harus berdamai dengan keadaan. Tanpa kebencian, cacian, penyesalan, kesakitan, kepedihan, harapan, kepedulian, dan perhatian. Diriku tidak setegar seperti imajinasimu, diriku tidak sekuat tekadmu,  diriku juga tidak semanis mimpimu, dan sayangnya diriku setulus hatimu 🥀

Melepasmu adalah kedustaan yang kuperbuat seperti janji kala itu, diriku terlalu jauh bersamamu hingga aku pun tidak mengenal siapa dan faktanya, aku benci takdirku sendiri. Ikhlas hanya lah kata yang tak sempat diucapkan hati karena gelap, melepaskanmu tidak lebih sekedar membuka pintu kebahagiaan agar dirimu tidak terkekang oleh keterpurukan. Namun konyolnya, diriku melupakan siapa yang berhak bahkan layak untuk diperhatikan dan dicintai 🥀

Cuek adalah teman dikala dirimu hadir dalam genggaman mata, dingin tidak lebih sekedar caraku mencintaimu, buta adalah karakter yang kau bentuk. Semua karena dirimu, tetapi mengapa dirimu menyiksaku dengan memanipulasi dunia bahwa kita tidak terluka? Aku kerap kali bertanya, apakah dirimu sengaja atau level kita memang berbeda? Yang jelas, kebersamaan kita tidak akan pernah kau abadikan dalam duniamu yang luas itu🥀

Terkadang pikiran akan keinginan hilang ingatan adalah jalan, tetapi menghilang terlanjur meyakinkan meskipun kematian telah dijanjikan 🥀

Kuharap dirimu tidak akan pernah datang pada momen kebahagiaan yang dulu pernah kita janjikan bersama, cukup siksa aku dengan kepergianmu tetapi jangan pernah kembali setelah beribu upaya yang kulakukan untuk mengobati luka kala itu. Aku sendirian, kesepian, bahkan tidak mengenal siapa, di mana, kenapa, kapan, ataupun bagaimana diriku tak sanggup. Satu kalimat yang kuucapkan di kala melepaskanmu, tersenyumlah dan semoga bahagia. 

Aku muak dengan sikapmu yang begitu menyakitiku perlahan-lahan bagaikan psikopat yang haus akan penderitaan, pergi saja!!! Aku tak perlu dirimu lagi.

Sakitku biarlah menjadi urusanku tetapi bahagiamu biarkanku membantumu melalui waktu. Berat sekalipun tidak akan kupedulikan karena dirimu tetapi itu dulu, lebih baik kita asing dan fokus pada proses masing-masing tanpa saling menyakiti, berbagi, maupun memberi. Cukup kemarin kedekatan kita, sekarang biarkan kita tidak saling kenal karena dengan begitu kita tidak akan saling terluka maupun menyakiti 🥀

Tanpa Judul 3

 Mengapa mereka mudah menerima? Padahal mereka tidak tau isi dari tulisan yang aku sisipkan melalui bait dalam kata yang banyak warna. Mereka hanya mengatakan ",,iya,," pada sebuah obrolan, dan mereka hanya melihat tanpa memahami. Sungguh sedih melihat dunia yang tidak sefrekuensi harus dipaksakan memahami sebuah isi dari makna yang tak pasti.

Aku rindu dengan dirimu yang mengerti isi meskipun tidak jeli tetapi sejauh pencapaian yang terlampaui hanyalah dirimu yang mengerti. Aku pernah menuliskan bahwa frekuensi kerap kali berkomunikasi tetapi mengapa interaksi tidak mencari..? Apakah masaku telah berakhir meskipun belum terpenuhi semua janji atau pilihan kedewasaan menyebabkan tembok raksasa Cina hanya secuil bagi kita?

Melepas Rasa yang Terpendam

 Aku tak pandai penyair

Tapi aku hanya bisa berhalusinasi

Yang kuungkapkan lewat puisi

Aku tak pandai...


Aku tak mengemis pujian dari sesama

Hanya ingin lepaskan rasa yang terpendam dalam sukma

Kusalurkan segala melalui kata-kata

Seraya melantun harap kepada sosok istimewa


Sosok istimewa yang kubanggakan

Apa sosok tersebut juga merindukanku

Apa dia mampir sebentar

Untuk berpamitan denganku


Dan sosok itu seakan ingin menjauhi

Tumpas hidup bahagia bersama yang dicinta

Aku ikhlas dia tak lagi ada di sisi

Doa baik untuknya tegar terpanjat di lubuk dada

Minggu, 17 September 2023

Kerinduan yang Tak Terobati

 Kala rindu tak kuasa terobati

Memandangmu belaka membuatku sedih

Tapi apa daya diri hanyalah wanita lemah

Kupanjat doa nan harap untukmu

Agar senantiasa berada dalam lindungan-Nya

Terbesit harap lekas berjumpa

Tapi diri merasa tak pantas di sampingnya

Tatkala gejolak rindu kian membahana

Hanya senja yang memahami suara sukma

Tulus menyelami segenap isi relung yang meronta



Puisi sambung bersama @Fauzi Hammadfa 

Yakin Akan Selalu Bersama

  Kopi itu terasa pahit Sebab yang manis itu senyummu yang merekah Tegar anggun nan indah Sampai terbawa di alam mimpi   Kala rind...